Bima, insidentb.com | Kebakaran hebat yang melahap 1.956 hektare savana di Taman Nasional Tambora memantik reaksi keras dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima. Status Tambora sebagai Cagar Biosfer Dunia milik UNESCO kini dipertanyakan perlindungannya menyusul minimnya sistem mitigasi yang ada.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Bima, Abduli, menyampaikan bahwa musibah ini adalah “tamparan” bagi tata kelola kawasan konservasi. Ia menegaskan, kehilangan ribuan hektare lahan bukan hanya angka, melainkan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati kawasan Wallacea.

Menurut Abduli, status UNESCO menuntut standar perlindungan yang lebih tinggi, bukan pembiaran terhadap siklus kebakaran yang berulang setiap musim kemarau. Ia menyoroti lemahnya sistem deteksi dini hingga kesiapan sarana pemadaman di lapangan.
“Kebakaran di Tambora bukan lagi persoalan rutin, ini bukti kegagalan sistem mitigasi. Kami mendesak pemerintah dan Balai Taman Nasional Tambora melakukan evaluasi total, mulai dari patroli pencegahan hingga ketersediaan sumber air di titik rawan,” tegas Abduli, dalam keterangannya, Sabtu 18 Juli 2026.
Dalam pernyataan resminya tersebut, HMI Cabang Bima melayangkan tiga poin desakan utama kepada pihak terkait, audit sistem mitigasi dengan melakukan perombakan menyeluruh pada sistem deteksi dini hotspot dan efektivitas koordinasi antarinstansi.
Kemudian melakukan investigasi transparan dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas penyebab kebakaran. Jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian, proses hukum harus ditegakkan tanpa kompromi.
Terakhir, Abduli meminta penguatan kapasitas dan pelibatan masyarakat lokal dan alokasi anggaran khusus untuk pengamanan kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis global tersebut.
Bagi HMI, Tambora adalah laboratorium alam dan penyangga kehidupan bagi masyarakat Pulau Sumbawa. Mereka memperingatkan agar pemerintah tidak menjadikan pengakuan UNESCO hanya sebagai pajangan prestise, sementara kawasan aslinya terus tergerus api dan pengabaian.
“Tambora adalah warisan dunia yang harus dijaga. Jangan biarkan ia menjadi monumen abu akibat kelalaian kita sendiri,” tutup Abduli.










