Ketersediaan Pangan, Distribusi Pangan dan KRPL Satu Kesatuan Untuk Masyarakat KSB

  • Bagikan

Artikel Ini Bekerjasama Dengan Dinas Ketahanan Dan Pangan

Oleh : Tim Redaksi

Dalam APBD tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat telah mengucurkan bantuan lumbung padi dan lantai jemur kepada setidaknya dua kelompok Lumbung Masyarakat. Satu kelompok ‘Buin Bulaeng’ Desa Talonang Baru dan kelompok Maju Jaya, Desa Lemar Lempo. Pembangunan dua unit lumbung padi menelan biaya Rp 214 juta dan pembangunan dua unit lantai jemur menelan biaya Rp 107 juta.

Hal itu berbeda dengan tahun 2019 lalu, Pemoab KSB melalui Dinas Ketahanan Pangan telah memberikan bantuan lantai jemur dan lumbung penyimpanan kepada kelompok di Desa Mantar dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar mencapai Rp 150 juta.

Selain bantuan dari dana APBD, Dinas Ketahanan Pangan juga telah mengusulkan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang telah mempunyai usaha seperti usaha penggilingan padi.

Pemerintah Provinsi juga membantu Gapoktan yang telah mempunyai usaha setiap tahunnya, karena itulah pendataan dan pendampingan memantau Gapoktan yang telah menerima bantuan terus dilakukan.

Konsep bantuan yang sama juga di terapkan melalui program bantuan Bariri Nelayan yang mengharuskan penerima bantuan menabung 10 persen dari total jumlah bantuan, hal itu bertujuan agar Poktan dapat melatih diri untuk menabung sehingga bantuan-bantuan ini dapat berkelanjutan atau terus bergulir.

Kedepan, pemerintah berharap kepada Poktan yang telah dibantu agar dapat berkembang dan menjadi usaha tani yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada bantuan semata.

Selain itu, upaya pemerintah untuk mempertimbangkan kesiapan bahan pokok, termasuk distribusi logistiknya. Sebab, bagaimanapun juga ketersedian bahan pokok, termasuk distribusi logistiknya menjadi perhatian masyarakat di tengah meluasnya virus corona. Wajar adanya, jika realitas saat ini harus segera dipastikan pemerintah daerah mengingat dari 148 ribu jiwa rakyat di Sumbawa Barat maka dapat di katakan jika falam satu jiwa dapat mengkonsumsi nasi sebanyak 300 gram perhari maka jika di kalkulasi perbulan atau pertahun dengan metode menggunakan rumus Pola Pangan Harapan (PPH) maka akan menghasilkan total nutrisi perbulan mencapai angka 108.000 gram perjiwa atau pertahun mencapai angka 1.598.840.000 gram untuk 148 ribu rakyat KSB.

Untuk itu, ketersediaan stok pangan di tengah Pandemi bidang Distribusi Pangan KSB dalam seminggu intens melakukan pemantauan pada 4 kecamatan, diantaranya kecamatan Taliwang, Jereweh, Maluk dan Sekongkang, hal itu dilakukan untuk memastikan adanya cadangan pangan masyarakat pada tingkat rumah tangga hingga akhir Desember 2020, serta dapat tercukupi kebutuhan sehingga tidak terjadinya kerawanan pangan.

Selain Ketersediaan Pangan dan Distribusi Pangan Pemkab Sumbawa Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan, juga terus berupaya mewujudkan warga binaan yang maju dan sejahtera. Pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi pola yang konsisten terus dilakukan agar program terlaksana dan realisasinya terukur. Pada tahun lalu program KWT mendapat kucuran alokasi dana bantuan meliputi, bibit tanaman sayur, buah, tanaman bumbu hingga unggas dengan nilai bantuan sekitar Rp 65 juta per kelompok.

Pada tahun 2018 tercatat 6 kelompok tani yang diberikan bantuan dengan total anggaran Rp 90 juta. Sementara pada 2019 ada 13 kelompok wanita tani yang diberikan bantuan sehingga totalnya adalah 19 kelompok.

Bantuan itu sebenarnya di tujukan untuk membantu kelompok wanita tani, karena ruang lingkup kerjaannya di pekarangan. Bahkan, petugas pendamping program terus memantau perkembangan KWT ini sehingga bantuan yang diberikan tidak cuma-cuma namun tepat sasaran dapat serta dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Bantuan ini dinamakan dengan bantuan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Dana ini bersumber dari Anggaran Perencanaan Belanja Nasional (APBN) yang memang diarahkan untuk peningkatan ekonomi keluarga, mengatasi kemiskinan dan juga mengentaskan stunting yang bermuara pada kesejahteraan keluarga itu sendiri.

Kelompok memang sempat fakum, namun terus di gelorakan dan di perkuat kembali. Pemberian arahan serta mentor yang baik, akan menjadi stimulasi yang baik pula bagi perkembangan program kedepan.

Sasaran program KRPL untuk KWT ini diharapkan dapat menjadi salah satu sektor yang dapat membantu ketersediaan pangan lokal, atau paling tidak membantu pemenuhan kebutuhan keluarga.

2018 lalu jauh sebelum ini, Dinas Ketahanan Pangan pernah memberikan bantuan kepada enam kelompok wanita, masing masing sebesar Rp15 juta per kelompok. Akan tetapi, pada tahun 2019 anggarannya ditambah menjadi Rp 65 juta. Bahkan, tahun 2020 dana itu menembus angka RP 1 Milyar. Hanya saja, pemerintah masih terus melakukan verifikasi.

Selain dari anggaran Pusat, Pemerintah Daerah juga memberikan bantuan melalui Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD) tahun lalu kepada beberapa kelompok wanita tani seperti Desa Batu Putih, mendapatkan bantuan berupa 250 ekor bebek, benih tanaman pekarangan. Selain itu, KWT Desa Mantar juga mendapatkan 250 ekor bibit ayam serta benih tanaman pekarangan dengan total anggaran mencapai Rp 81, 435 juta.

Tidak hanya untuk kelompok wanita tani tadi, pemerintah daerah juga memberikan bantuan kepada sekitar 100 lebih Kepala Keluarga (KK) miskin. Bantuan tersebut berupa bibit sayur, tanaman obat, serta bantuan kolam pekarangan yang dapat digunakan untuk budidaya ikan air tawar.

Verifikasi itu untuk mengetahui siapa saja yang layak mendapatkan bantuan dengan persyaratan yang sudah ditentukan tadi. Yang pasti, penerima bantuan memiliki cukup pekarangan untuk kolam dan tanaman.

Kegiatan kegiatan tadi merupakan upaya pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan dan Pangan guna terus mendukung ketersediaan pangan dengan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sumber anggaran pun tidak hanya dari APBN, melainkan intervensi APBD I hingga APBD II.

Di KSB, tahun 2019 lalu terdapat 13 desa-Kelompok Wanita Tani (KWT) mendapat suntikan APBN senilai Rp 65 juta dan 6 desa mendapat Rp 15 juta untuk KRPL dari pengembangan anggaran pendampingan tahun lalu.

Sedangkan untuk APBD Provinsi, Desa Mantar Kecamatan Poto Tano dan Batu Putih-Kecamatan Taliwang yang kini mendapat alokasi program tersebut. Tahun lalu, dua desa mendapat bantuan serupa. Yaitu Desa Ai Suning dan Tapir Kecamatan Seteluk.

Sumber dari Pemkab Sumbawa Barat sendiri terdapat 12 desa. Yaitu Desa Kokarlian, Klanir, Sermong, Kelurahan Sampir, Kelurahan Arken, Kelurahan Kuang, Moteng, Bakat Monteh, Belo-jereweh, Bukit Damai, Benete dan Desa Mujahiddin. Jadi ada 33 total desa atau kelurahan yang mendapat program tersebut dari ketiga sumber anggaran tadi.

Totalitas kerja pendamping program KRPL ini akan menentukan kesuksesan KWT melaksanakan pengelolaan bantuan dan target program ini dilapangan. Jika tidak bisa mensuplay pangan ke pasar, minimal KWT mampu menciptakan ketersediaan pangan konsumsi dirumah masing-masing. Dari ketiga program ini dihajatkan untuk memerangi angka stunting dan kemiskinan di tanah Pariri Lema Bariri.(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!