Lagi,,! Warga Kiantar Bawa Spanduk, Tolak Lahannya Dijual

  • Bagikan

INSIDE NTB.COM, Sumbawa Barat – Tahapan pembebasan lahan untuk bandara menuai pro dan kontra bahkan, sejumlah warga desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, kembali menolak lahannya untuk dijual.

M. Yasin, tokoh masyarakat setempat, menegaskan bahwa pembangunan bandara yang rencana akan melibatkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT), sebagai investor akan membunuh mata pencaharian warga setempat.

“Iya, sampai kapanpun kami tidak akan menjual tanah kami untuk pembangunan bandara. Meski harga yang ditawarkan kepada kami tinggi, kami dengan tegas akan menolaknya,” ungkap M. Yasin saat ditemui awak media belum lama ini.

Yasin juga menyayangkan sikap Bupati KSB sebagai pemimpin, seharusnya bisa menjadi garda terdepan dalam membela hak dan kepentingan masyarakat, bukan malah sebaliknya.

“Seharusnya Bupati bisa memahami apa yang menjadi harapan dari masyarakat setempat, bukan malah mendesak kami untuk kepentingan perusahaan,” sesalnya.

Yasin yang juga pemilik lahan tersebut mengaku, dirinya tidak akan menjual tanahnya kepada siapapun, apalagi itu untuk pembangunan Bandara. Padahal dirinya sudah menegaskan kepada Bupati saat sosialisasi, untuk tidak menjual tanahnya dengan harga berapapun.

“Ini bukan masalah harga. Karena sudah saya sampaikan berkali-kali kepada Bupati maupun Tim Pembebasan Lahan, bahwa tanah kami tidak untuk dijual,” bebernya.

Senada dengan Yasin, Syamsuddin pemilik lahan lainya juga berharap kepada Bupati untuk mencari lahan lain untuk pembangunan Bandara tersebut.

“Kalau Bupati ingin membantu warga Kiantar, lebih baik membuat irigasi untuk pengairan para petani, kan itu lebih ada manfaatnya daripada membangun Bandara. Itupun kalau memang mau membantu. Misalkan, berikan kami mesin air untuk kami, agar bisa menanam tiga kali setahun, tentu hal ini akan lebih berguna dan disambut baik,” ungkapnya.

Syam sapaan akrabnya juga mengaku, bahwa penghasilan warga desa Kiantar di bidang pertanian jagung dan peternakan sangat luar biasa. Apalagi Pemda mau membantu dengan memberikan mesin air dan bibit hewan ternak sapi dan kambing, pasti makin sangat luar biasa.

“Kami menanam jagung setahun bisa menghasilkan Rp 80-100 juta. Sekali panen dikalikan saja jika panen tiga kali setahun. Belum lagi hasil dari peternakan sapi, kambing dan hewan ternak lainya. Tapi jika ingin membangun Bandara, tidak usah datang dan bujuk kami untuk menjual tanah, karena penghasilan kami setiap tahunnya tidak sebanding dengan uang yang diberikan kepada kami,” tegasnya.

Seperti yang diketahui, Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W Musyafirin, MM. dalam sambutannya di acara sosialisasi hasil penilaian harga Tim Appraisal pada objek tanah rencana lokasi pembangunan Bandar Udara pada 03 Mei 2021 lalu, mengeluarkan harga tanah dengan rata-rata terendah Rp. 427.000.000/Ha, dan harga tertinggi tanah berada pada angka Rp. 527.000.000/Ha, langsung mendapat penolakan dari warga setempat.(RED)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!