Mataram, insidentb.com | Di balik selesainya proyek Long Segmen Lunyuk-Lenangguar senilai Rp19 miliar lebih bersumber dari APBD Provinsi NTB, tersimpan tumpukan utang dan jeritan para supplier yang merasa dikhianati oleh mitra kerja utama mereka, PT Amar Jaya Perkasa (AJP).
Alih alih merayakan rampungnya pekerjaan yang menggunakan uang rakyat tersebut, para supplier lokal yang sejak awal menopang kelancaran operasional di lapangan justru harus menghadapi tekanan mental dan finansial akibat tunggakan pembayaran yang tak kunjung diselesaikan.
Salah seorang supplier asal Kecamatan Lunyuk, Aditia, mengaku kesabarannya telah habis setelah berbulan bulan hanya mendapatkan janji manis tanpa kejelasan.
“Kami sangat kecewa. Kami dipingpong ke sana kemari, tetapi tidak ada penyelesaian sama sekali. Kami tuntut hak kami untuk segera dibayarkan,” kata Aditia, kepada wartawan, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, keterlibatan para supplier bukan hanya mitra bisnis biasa, melainkan penyelamat di lapangan agar proyek tersebut dapat berjalan. Namun, setelah pekerjaan tuntas dan anggaran cair, mereka justru merasa ditinggalkan begitu saja. Janji janji manis seperti penawaran Pekerjaan Langsung (PL) yang sempat diembuskan sebagai solusi pun menguap tanpa realisasi.
Ironisnya, demi memastikan roda proyek milik pemerintah tersebut tetap berputar, para supplier terpaksa mempertaruhkan keselamatan finansial pribadi. Aditia membeberkan bahwa ada rekan sesama supplier yang nekat menggadaikan aset pribadi demi modal kerja.
“Kami ini bukan pekerja rodi yang diperas dan hanya dibutuhkan tenaganya tanpa dibayar. Kami menggunakan modal sendiri. Bahkan ada yang harus menggadaikan aset untuk modal kerja demi membantu proyek ini sukses,” tegasnya.
Tekanan berat turut dirasakan oleh Herman, supplier yang kesehariannya memasok bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan alat berat di proyek tersebut. Ia mengaku kini berada di posisi yang memalukan sekaligus menakutkan karena terus menerus didatangi oleh pihak tempatnya mengambil pasokan BBM.
“Saya sudah beberapa kali didatangi dan dihuhungi oleh orang tempat saya ambil BBM. Saya merasa malu dan tertekan,” ungkap Herman.
Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat lari dari tanggung jawab. Namun, ia tidak memiliki sumber dana lain untuk melunasi utang tersebut selain dari pembayaran yang hingga kini ditahan oleh PT AJP. Ia mendesak PT AJP agar tidak melempar batu sembunyi tangan dan segera melunasi kewajiban mereka agar dirinya tidak dituduh melakukan penggelapan dana.
Upaya pencarian keadilan sebenarnya telah ditempuh oleh para korban. Mereka sempat mendatangi Inspektorat Provinsi NTB dan diterima langsung oleh Inspektur Inspektorat NTB, Dr. Budi Herman, S.H., M.H., yang saat itu berjanji membantu mencarikan jalan keluar. Kendati demikian, hingga kini langkah konkret dari instansi pemerintah tersebut belum dirasakan oleh para supplier di lapangan.
Di sisi lain, Direktur Cabang PT AJP, Hendra Dinata, dinilai belum memberikan itikad baik maupun solusi konkret untuk menyelesaikan sengkarut tunggakan ini.
Melihat tidak adanya kepastian hukum maupun keadilan sosial bagi masyarakat kecil, ancaman aksi turun ke jalan kini mulai bergulir. Para supplier memperingatkan bahwa jika pemerintah dan pihak kontraktor tetap bungkam, mereka tidak akan segan segan melakukan aksi blokade di lokasi proyek Long Segmen Lunyuk–Lenangguar.
“Kami sudah cukup bersabar. Ini bentuk penghianatan dan penghinaan terhadap kami masyarakat kecil yang hanya mempermainkan kami dengan cara menipu dan menguras tenaga kami. Kami akan lawan dan berjuang sampai hak kami diselesaikan,” pungkas Aditia.










