Mataram, insidentb.com | Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi berada di bawah bayang bayang cuaca ekstrem menyusul konfirmasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) mengenai masuknya Indonesia ke dalam fase El Nino tingkat kuat.
Fenomena iklim global yang dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur ini telah menyedot pasokan uap air dari wilayah Indonesia. Akibatnya, pembentukan awan hujan merosot tajam, memicu penurunan curah hujan drastis, udara kering, serta lonjakan suhu terik di berbagai wilayah NTB.
Berdasarkan analisis cuaca periode 29 hingga 31 Juli 2026, sebagian besar kabupaten/kota di NTB didominasi cuaca cerah berawan. Potensi hujan ringan hingga sedang terpantau sangat minim dan hanya terjadi secara lokal di beberapa titik seperti Lombok Timur, Dompu, dan Bima.
Namun, bahaya utama pada periode ini bukan hanya ketiadaan hujan, melainkan ancaman angin kencang dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Kecepatan Angin, mencapai 14 hingga 27 kilometer per jam, bertiup dari arah tenggara menuju timur. Kemudian kisaran suhu berada di angka 13 hingga 33 derajat celsius. Adapun wilayah rawan angin kencang, diantaranya, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.
“Masyarakat wajib menghindari aktivitas membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan karena angin kencang memicu penyebaran api secara cepat,” tegas Prakirawan BMKG Stamet ZAM, Dhian Yulie Cahyono.
Menurutnya, dampak El Nino kuat ini tidak hanya mengancam daratan, tetapi juga sektor perairan dan ketersediaan sumber daya vital akan terjadi potensi penurunan ketersediaan air bersih mendesak masyarakat untuk menggunakan air secara bijak.
Warga juga diimbau memakai tabir surya (sunscreen) guna melindungi kulit dari radiasi langsung matahari yang kian terik.
Bukan hanya itu, ancaman El Nino terjadi juga di sektor kelautan. BMKG menghimbau Nelayan dan operator transportasi laut diminta waspada terhadap gelombang tinggi mencapai dua meter atau lebih diwilayah, Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, Perairan Selatan Sumbawa dan Samudra Hindia selatan NTB.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak lengah, terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi, serta meningkatkan kewaspadaan kolektif menghadapi puncak kemarau panjang ini.










