Sumbawa Barat, insidentb.com | Ancaman nyata kini membayangi infrastruktur strategis di Desa Batu Putih, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di wilayah tersebut kini dalam kondisi terancam roboh akibat abrasi sungai yang kian tak terkendali.
Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan fakta yang memprihatinkan. Pada radius 139 meter dari posisi tower, kondisi geografis tanah melengkung drastis akibat kikisan arus sungai yang deras. Meski upaya pemasangan bronjong telah dilakukan pada tahun 2025 lalu, benteng pertahanan tersebut terbukti gagal membendung kekuatan arus dasar sungai yang diperparah oleh fenomena pasang surut air.
Manager ULTG Sumbawa, I Wayan Ariana, saat dikonfirmasi menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam menghadapi situasi darurat ini. Ia memastikan bahwa PLN tetap melakukan langkah langkah mitigasi ketat guna meminimalisir risiko terburuk yang tidak diinginkan.
“Kami tidak menutup kemungkinan untuk terus melakukan langkah langkah antisipasi terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Keamanan infrastruktur dan warga adalah prioritas,” tegas I Wayan Ariana, kepada wartawan, Senin (29/06/2026).
Sebagai langkah perbaikan permanen, kata dia, pihak ULTG Sumbawa kini telah menempuh jalur koordinasi lintas sektoral. I Wayan Ariana menjelaskan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan pihak Balai Sungai untuk merencanakan pemasangan sheet pile (dinding turap baja) sebagai fondasi pelindung tebing yang lebih kokoh. Komunikasi intensif juga terus dibangun bersama Pemerintah Daerah KSB serta Pemerintah Desa setempat.
“Yang jelas saat ini, seluruh proses desain tahap awal telah rampung dikerjakan. Untuk perbaikan infrastrukturnya kami masih menunggu anggaran dari pemerintah pusat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Batu Putih, Sahriluddin, meminta pihak PLTU/PLN setempat untuk segera turun tangan dan tidak tutup mata terhadap kondisi yang sudah sangat membahayakan nyawa warganya.
“Kondisi menara ini sudah sangat parah. Abrasi sungai terus menggerus titik berdirinya menara, dan kabel kabel sudah menjuntai rendah. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal nyawa,” ujar Sahriluddin, kepada wartawan, Kamis (25/06/2026).
Selain itu, Sahriluddin meminta agar pihak pengelola segera melakukan langkah konkret berupa penggantian menara atau relokasi secepat mungkin.
“Kami minta pihak PLTU atau PLN segera turun tangan. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bertindak. Menara ini harus segera diganti atau dipindahkan karena posisinya sudah tidak aman lagi akibat abrasi sungai yang terus mengikis lahan di sekitarnya,” demikian, Sahril.










