Sumbawa Barat, insidentb.com | Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat melakukan langkah strategis dalam mengoptimalkan program budidaya ikan tematik yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Setelah mengevaluasi kendala teknis yang kerap memicu kegagalan pada sistem bioflok, kini arah kebijakan budidaya beralih ke sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) atau sistem budidaya ikan modern di mana air didaur ulang dan digunakan kembali secara terus menerus.
Kepala Dinas Perikanan Sumbawa Barat, Agus Purnawan, S.Pi, MM, mengungkapkan bahwa transisi ini berdasarkan surat KKP yang merevisi BDI Tematik dari bioflok ke sistem RAS. Selama ini, kata dia, program budidaya tematik berbasis bioflok menghadapi tantangan besar di lapangan. Agus menilai, teknologi bioflok menuntut tingkat pemahaman teknis yang tinggi dari para pelaku usaha.
“Kegagalan budidaya bioflok selama ini bersumber pada kurangnya penguasaan teknologi. Pembudidaya harus paham cara menumbuhkan flok, menjaga kualitas air, hingga mengelola bakteri secara berkala dan presisi. Kompleksitas inilah yang membuat tingkat kegagalan menjadi tinggi,” ujar Agus.
Merespons dinamika tersebut, KKP kini mengubah arah kebijakan program tematik dari sistem bioflok menjadi sistem RAS. Agus menyambut baik perubahan ini karena dinilai jauh lebih adaptif bagi pembudidaya di tingkat desa dan kelurahan.
Berbeda dengan bioflok yang sangat bergantung pada kontrol mikroba, sistem RAS bekerja dengan prinsip menyaring dan memutar kembali air yang telah digunakan melalui unit filter.
“Sistem RAS jauh lebih simpel dan sederhana. Pola ini lebih potensial untuk dikembangkan secara masif karena tidak serumit bioflok,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Perikanan KSB kini tengah mengidentifikasi desa dan kelurahan yang memiliki potensi untuk mengadopsi teknologi ini. Rencana pengembangan tersebut dirancang cukup ambisius, dengan target menyentuh level akar rumput, termasuk hingga ke Posyandu.
“Dengan asumsi satu desa atau kelurahan di tiap kecamatan akan menjadi model, program ini diproyeksikan menjadi pilar baru dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga,” jelasnya lagi.
Langkah ini juga dipastikan akan mendukung program KSB Maju Luar Biasa yang sedang berjalan.
“Kami ingin sistem RAS ini menjadi model pengembangan ketahanan pangan di tingkat desa. Dengan teknologi yang lebih sederhana dan berkelanjutan, kami optimistis budidaya ikan mendukung program KSB Maju Luar Biasa serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat Sumbawa Barat,” tutup Agus.(**)










