Sumbawa Membara! Aliansi Masyarakat Selatan Kepung Simpang Lito, Kecam “Pembiaran” Tambang Ilegal

Sumbawa | Gelombang kemarahan rakyat di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa mencapai titik didih. Senin pagi (11/5/2026), Simpang Desa Lito, Kecamatan Moyo Hulu, berubah menjadi panggung perlawanan saat ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Selatan Peduli Lingkungan tumpah ke jalan.

Mereka mengutuk keras apa yang mereka sebut sebagai “pembiaran sistematis” terhadap aktivitas tambang ilegal yang kian beringas merusak alam.

Dalam aksi yang berlangsung panas sejak pukul 09.00 WITA tersebut, spanduk bertuliskan Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal dikibarkan sebagai simbol harga mati perjuangan warga. Massa menilai, negara seolah “tutup mata” terhadap praktik illegal mining di Kecamatan Lantung dan sekitarnya yang kini sudah berada pada level darurat.

Koordinator Umum aksi, Sadam, dalam orasinya mengeluarkan pernyataan yang menguliti ketidakberdayaan otoritas terkait. Ia menegaskan bahwa kerusakan di wilayah selatan bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman terhadap kedaulatan pangan dan nyawa warga.

“Hari ini kita menyaksikan drama pembiaran yang memuakkan! Aktivitas ilegal di Lantung bukan hanya merobek tanah kami, tapi merampas masa depan pertanian kami. Hasil bumi menurun, limbah tailing  menghantui, sementara mereka yang berwenang seolah-olah buta dan tuli,” tegas Sadam dengan nada tinggi di hadapan massa yang riuh.

Sadam memperingatkan bahwa jika eksploitasi tanpa izin ini terus dipelihara oleh kepentingan segelintir pihak, maka bencana alam hanyalah tinggal menunggu waktu.

“Ini soal luka masyarakat selatan yang sudah terlalu dalam. Kita sedang mewariskan kehancuran bagi anak cucu jika hari ini kita tetap diam,” tambahnya.

Suasana demonstrasi sempat memanas saat orator bergantian menyerukan penyelamatan lingkungan. Aliansi ini secara tegas memberikan warning keras kepada pemerintah dan aparat penegak hukum (APH). Mereka tidak akan puas hanya dengan janji manis di atas kertas.

Sadam memastikan bahwa aksi ini hanyalah pembukaan. Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata untuk menutup paksa lubang-lubang tambang ilegal tersebut, massa dalam jumlah yang jauh lebih besar akan kembali mengepung pusat kebijakan.

“Perjuangan ini tidak akan berhenti di Simpang Lito! Kami akan segera kembali dengan Aksi Jilid II. Kami akan pastikan suara masyarakat selatan menggetarkan kantor kantor pemerintahan sampai keadilan benar-benar tegak di tanah kelahiran kami,” ancamnya.

Menutup orasinya, Sadam mengetuk pintu hati generasi muda Sumbawa Selatan agar tidak menjadi penonton di rumah sendiri. Ia mendesak para pemuda untuk berdiri di garda terdepan melawan para pemain tambang yang tidak bertanggung jawab.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak agar ada langkah konkret berupa penindakan hukum tegas tanpa pandang bulu. Rakyat selatan telah bersumpah. Tanah mereka tidak untuk dijual pada kerusakan.