Tahun 1985, awal dimulainya studi dan penyelidikan umum, dimana cerita ditemukannya deposit tembaga Porfiri di Batu Hijau, dimulai. Porfiri adalah batuan beku yang dicirikan oleh tekstur khasnya, yaitu kristal besar yang disebut Fenokris. Endapan mineral yang berada diperut bumi jutaan tahun lalu.
Newmont Coorporation, sebuah perusahaan patungan international yang memulai melakukan studi penyelidikan umum. Untuk menemukan deposit sumber daya mineral yang sangat berharga, yakni deposit Forfiri. Atau tembaga. Pada tahun 1999, barulah deposit tembaga itu ditemukan setelah studi konseptual dilakukan guna menemukan busur bebatuan mineral dikedalaman perut bumi.
Batu Hijau terletak di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Tambang Batu Hijau adalah tambang emas dan tembaga yang terbesar kedua setelah, tambang Gressberg, yang dikelola PT. Freeport Indonesia di Provinsi Papua.
Nama Batu Hijau sendiri disebut dalam sejarah penemuannya, merujuk dari sinar hijau berkilauan dari air yang keluar dari lubang tambang. Warna kehijauan berkilau itu terjadi akibat batu batuan alami yang teroksidasi mineral tembaga dan air dari perut bumi.
Ketika itu, sejarah pertambangan purba sudah menguak metodelogi pertambang terbuka. Yakni, peralatan buatan mirip sekop dan kapak genggam. Namun, pada awal tahun 1990, eksplorasi mineral tembaga di lakukan Newmont Coorporation Partnership. Yakni, perusahaan patungan yang bakal mengeksploitasi Batu Hijau.
Dan tahun 1999 awal dimulainya fase eksploitasi tambang Batu Hijau. Dalam fase ini, kapak genggam dan peralatan batuan mirip sekop tidak lagi digunakan dalam metode tambang terbuka. Batu Hijau menjadi pelopor pertama penggunaan tambang sekop listrik. Mining Equipment, atau mesin pengeboran tambang dalam industri pertambangan modern.
Mesin sekop listrik dan pengeboran tambang ini, digunakan untuk mengangkat biji batuan ke truk pengangkut Catterpilar dengan kapasitas 220 hingga 240 ton. Truk truk tersebut mengangkut biji bantuan tadi ke penghancur primer sebelum dialirkan melalui Conveyor atau karet berjalan, selebar 1,8 meter, dengan panjang 6,8 kilometer.
Kapasitas produksi biji batuan tambang di Batu Hijau ketika itu, bisa mencapai 600.000 ribu ton per hari. Dengan kadar tembaga sebesar 0,49 persen serta kadar emas rata rata 0,39 gram per ton. (Sumber-Wikipidia).
Kemudian, biji yang dihancurkan melalui fasilitas penghancur primer tadi, selanjutnya diperkecil ukurannya melalui penggilingan semi otomatis dan Ball Mill. Ball Mill adalah penggilingan raksasa berbahan metal dan berbentuk bola yang berputar.
Setelah digiling tadi, barulah biji bijian tersebut dikirim melalui sirkuit flotasi. Yang menghasilkan konsentrat dengan kadar 32 persen tembaga dan 19,9 gram emas perton. Flotasi sendiri adalah, proses pemisahan mineral berharga dari mineral pengotor dalam biji. Dengan menggunakan gelembung udara dan bahan kimia, untuk membuat mineral yang diinginkan terapung dan mengumpul dipermukaan.
Mineral yang terapung dan mengumpul dipermukaan, akan dikentalkan dan menghasilkan serbuk konsentrat tadi. Serbuk konsentrat yang mengandung unsur tembaga dan emas, selanjutnya dialirkan melalui pelabuhan Benete untuk eksport ke negara pembeli. Kapasitas tampung konsentrat Batu Hijau di pelabuhan Benete, mencapai 80.000 ton.
Akan tetapi, metode dan teknologi pertambangan Batu Hijau pada masanya kemudian mengalami evolusi teknologi secara besar besaran. PT. Amman Mineral International (AMI), perusahaan yang melaksanakan kegiatan eksplorasi, pengembangan, penambangan, peleburan, pemurnian dan pengolahan di Indonesia, kini mengambil alih operasi Batu Hijau.
Tepatnya November 2016, PT. AMI resmi mengakuisisi mayoritas saham PT. Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT) anak dari Newmont Coorporation Partnership. Ketika itu, AMI didukung PT. AP Investama dan Medco Energi. Barulah AMI membentuk anak perusahaannya yakni, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk melaksanakan kegiatan pengolahan dan pertambangan di Batu Hijau.
Dari berbagai sumber, inovasi teknologi mulai dari metode Blasting, atau peledakan bahan batuan pertambangan, pengerukan biji batu batuan hingga ‘Reinkarnasi‘ dari sistem flotasi bahan mineral mulai dikembangkan PT. AMNT.
Misalnya penggunaan teknologi ‘4D Blasting’ atau empat dimensi matematis berbasis digital dalam peledakan dan peleburan batu batuan. Yang digerakkan secara real-time dan terkontrol. Teknologi ini, menghasilkan batu batuan yang mudah diolah. Meningkatkan kepadatan dan konsistensi energi serta meningkatkan efisiensi produksi.
Ada juga teknologi Laser Scanner Management. Yakni, teknologi management stockpile atau tempat penimbunan dan penyimpanan sementara bijih batuan tambang. Teknologi ini memastikan setiap ton material diawasi dengan cermat, meminimalkan kehilangan dan memaksimalkan produktifitas.
Inovasi teknologi dalam sistem pengolahan vital juga dilakukan serius Amman Mineral. Salah satunya dengan Froth Crowder dan Double Flash Smelting.
Froth Crowder atau reagen kimia yang digunakan untuk menghasilkan dan menstabilkan buih. Inovasi ini digunakan untuk meningkatkan laju pengangkutan buih dan penarikan massa. Yang nantinya, mampu meningkatkan perolehan tembaga secara signifikan. Sementara, Double Flash Smelting yakni teknologi peleburan tembaga yang dilakukan menggunakan oksigen dan gas alam.
Dengan teknologi tadi yang memungkinkan, produksi katoda tembaga dengan kemurnian tinggi. Selain menekan biaya dan mengurangi emisi.
Usai evolusi besar dalam teknologi penambangan dan pengolahan yang dilakukan tadi, PT. AMNT juga melakukan evolusi teknologi tinggi dalam menerapkan tehnik reklamasi pasca tambang. Apa itu?
Yaitu teknologi Citra Satelit dan UAV atau pesawat tanpa awak atau drone. Teknologi pertambangan sistem ini, digunakan untuk pengumpulan data, melakukan survey, pemetaan, inspeksi infrastruktur dan pemantauan keamanan.
Dalam kaitan reklamasi pasca tambang, AMNT menggunakan Citra satelit dan UAV tadi untuk memantau keberhasilan Reklamasi pasca tambang. Melalaui analisis citra satelit, khususnya menggunakan metode Normalized Difference Vegatation Index (NDVI).
NDVI memungkinkan PT. Amman dapat memantau tingkat kerapatan dan kesehatan vegetasi tanaman di area reklamasi.
Berbagai inovasi teknologi pertambangan yang diterapkan PT AMNT di Batu Hijau menjadikan, tambang peninggalan prasejarah itu ber-evolusi tinggi menjadi industri baru padat teknologi termutakhir.
Tidak heran, AMNT diganjar penghargaan Good Mining Practice Award sejak tahun 2020. Karena upayanya menciptakan inovasi teknologi serta praktik kaidah teknik pertambangan yang baik. Penghargaan tersebut diganjar pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) sebanyak empat kali berturut turut.
Sebenarnya, sejarah pertambangan di tanah air telah berlangsung ratusan tahun silam. Ikut menandai rentetan revolusi Industri sekitar tahun 1760-1850, yang berlangsung di Inggris. Ketika itu terjadi revolusi Industri dimana penggunaan peralatan dari tenaga manusia tidak lagi banyak digunakan dan beralih ke mesin.
Sebagaimana dikutip, laman Wikipedia, Tambang emas tertua di Indonesia berada di Gunung Salido. Terletak di Desa Salido Ketek, Kabupaten Pesisir selatan, Sumatera Barat. Tambang ini sudah ada sejak zaman pendudukan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, 150 tahun lalu.
Kemudian ada juga tambang batu bara pertama di Indonesia yakni, di Ombilin, Sawahlunto Sumatera Barat. Tambang batu bara ditemukan pertama kali pada tahun 1868 oleh Seorang ahli geologi Belanda bernama Willem Hendrik de Greeve. (Sumber detik.com, ‘Sejarah Ombilin Tambang Batu Bara Tertua’).
Rentetan sejarah pertambangan di berbagai tempat di tanah air menandai bahwa dunia pertambangan mengalami evolusi teknologi yang terus berubah. Teknologi pertambangan serta inovasinya dibutuhkan, agar pengelolaan tambang lebih efisien, tidak merusak, ramah lingkungan serta mampu mendongkrak ekonomi negara dan masyarakat.