Menguak Dugaan ‘Bisnis’ Dibalik CSR PT AMNT

  • Bagikan

Laporan Investigasi TIM Aliansi Jurnalis Investigasi (AJI)

Sumbawa Barat | Berdasarkan hasil TIM investigasi sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Investigasi (AJI) Sumbawa Barat terbongkar dugaan ‘bisnis’ dibalik Corporate Social Responsibility (CSR) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Hasil penulusuran Tim AJI, Jum’at (2/9/2022) menemukan fakta jika CSR selama ini yang di gaung-gaungkan pihak perusahaan hanyalah sebatas isapan jempol dan merupakan bisnis semata bagi sebagian pengusaha di wilayah lingkar tambang.

Haji Tarmizi salah satu pengusaha pengrajin Ijuk Blanket di Desa Jereweh, di Jalan Raya Lintas Jelenga, Desa Beru, Kecamatan Jereweh, mengaku jika dirinya hanya sebagai penyedia tempat pengrajin ijuk untuk kebutuhan bisnis AMNT yang menggunakan penyuplai PT. Ridho Bersama (RB). Selain di wilayah nya, bisnis ijuk ini juga ada di Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene.

“Kami hanya penyedia saja pak. Ini usaha pribadi,” akunya.

Ditanya Tim AJI terkait papan informasi yang ada di depan lokasi pembuatan ijuk milik Tarmizi yang bertuliskan “Binaan PT Amman Nusa Tenggara” tersebut, Tarmizi menjelaskan itu hanya sebagai pinjam lokasi atau tempat, bukan pengelolaan yang bersumber dari dana CSR melainkan usaha pribadi.

“Usaha ini bukan bantuan atau CSR dari PT AMNT. Usaha tersebut adalah bisnis dan menggunakan anggaran pribadi,” ujarnya.

Usai dari tempat usaha Tarmizi, Tim AJI kemudian menyusuri, Eliza pemilik usaha Bibit Pohon Reklamasi yang ada di Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang. Dari pengakuannya, Eliza menyebut jika dirinya hanya bertugas sebagai penyedia tempat bibit pohon untuk kebutuhan bisnis PT. AMNT.

“Iya, kami hanya penyedia pak. Kamk menggunakan penyuplai CV. Family Sejahtera atas nama Pak Hadi Saudara pak Abidin Nasar,” aku Eliza sembari menunjukkan pohon yang disebelah kiri itu milik PT AMNT.

“Bibit tersebut di suplai ke AMNT melalui CV Family Sejahtera. Usaha saya sejak 3 tahun berjalan itupun di luar masa pandemi. Usaha ini berjalam menggunakan bendera/kelompok Tani Hijau Lestari. Kemudian, bibit pohon akan diambil 3 bulan sekali oleh PT AMNT melalui Departemen Environment dengan sistem pembayaran menggunakan invoice,” sambungnya.

Terkait masalah CSR, Eliza menyebut tidak tahu menahu terkait hal itu, sebab dirinya tidak pernah tersentuh dengan CSR itu sendiri. Apa yang dikelolanya ini murni bisnis to bisnis bukan CSR dari perusahaan. Ia juga mengatakan, jika bisnis bibit pohon ini bukan hanya ada disini, tapi ada juga di Desa Tongo.

“Gak ada itu CSR. Kami bisnis pak. Sama juga dengan bisnis usaha bibit pohon yang ada di Desa Tongo. Itu pengusahanya ada Pak Kades Idham. Yang di desa Tongo itu usahanya pak Idham sendiri. Kalau tidak salah bisnisnya dimulai sejak tahun 2021-2022. Itu bisnis juga pak, dengan sistem yang sama menggunakan menyuplai kalau tidak salah mereka menggunakan penyuplai PT. IRC,” bebernya.

Setelah menemui Tarmizi dan Eliza, tak sampai disitu, Tim AJI kembali menemui M. Yusuf alias Ucok salah seorang pengusaha Industri Pengrajin Sabut Kelapa (Coconet dan Cocopeat) di Desa Pasir Putih, Kecamatan Maluk.

Dari pengakuannya kepada Tim AJI, bahwa dirinya sejak 2016-2022 aktif menjalankan bisnis serabut tersebut, selain disini ada juga di Lingkungan Perjuk Taliwang dengan menggunakan perusahaan penyuplai PT Maluk Mitra Jaya miliknya.

Berbeda dengan Tarmizi dan Eliza, M. Yusuf mengakui jika usaha miliknya merupakan binaan dari PT AMNT. Ketika di konfirmasi Tim AJI terkait CSR dirinya enggan berkomentar banyak.

“Itu bukan rana saya. Saya tidak berkompeten dalam hal itu. Tapi jujur saya ini orang bisnis,” terangnya.

Ia mengaku selama usahanya berjalan, hasil dari produksinya juga disuplai hingga ke luar daerah. Kalau ditanya terkait CSR, dirinya berharap perusahaan lebih transparan.

“Jujur ya, hasil produksi Coconet dan Cocopeat selain di suplai ke PT AMNT kami juga menyuplai ke luar daerah. Jadi, murni kita bisnis mas,” ujarnya, sembari enggan memberikan keterangan lebih detail terkait masalah CSR PT AMNT.

Lepas dari itu, Tim AJI juga menemui, Darmansyah salah seorang Ketua Kelompok Barupa Singgah, Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh. Dari pengakuannya, bahwa selama ini pasca akuisisi saham dari PT NNT ke PT AMNT belum pernah ada pemberdayaan atau bantuan apapun kepada kelompoknya yang ada di Desa Dasan Anyar dari pihak perusahaan, termasuk CSR.

“Sudah 5 tahun kami tidak memproduksi ijuk. Terakhir kami mendapatkan bantuan dari AMNT di tahun 2018, disaat proses transisi dari PT. NNT ke PT AMNT, setelah itu sudah tidak ada lagi bantuan apapun, baik itu CSR hingga saat ini,” ungkapnya.

Darmansyah menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pengajuan terkait bantuan anggaran untuk pembuatan ijuk untuk kelompoknya, tapi tidak digubris oleh AMNT sampai dengan saat ini.

“Kami masyarakat Dasan Anyar kecewa atas sikap perusahaan selama ini pak. Semoga.saja, mereka paham akan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat lingkar tambang,” bebernya.

Menurutnya, CSR ini adalah kewajiban perusahaan dan bukan kebaikan dari perusahaan, hal tersebut sesuai dengan ketentuan UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mana termuat dalam Pasal 1 ayat (3), Pasal 66 ayat (2) dan Pasal 74 ayat (1).

“Harapan kita semua bahwa seluruh perusahaan baik yang bergerak dalam bidang pengelolaan sumber daya alam ataupun penanaman modal lainnya kiranya dapat mengimplementasikan CSR dengan baik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang,” pungkasnya.

Terpisah, Kades Jereweh Belo, Kaharuddin di temui Tim AJI mengaku, tidak tahu menahu terkait anggaran ataupun adanya bentuk CSR PT AMNT sebab tidak ada laporannya ke pihaknya secara detail.

“Yang kami tahu hanya CSR dalam bentuk bea siswa itu setahu saya,” katanya singkat, sembari enggan berkomentar banyak terkait banyaknya pertanyaan dari Tim AJI.

Sebelumnya Head Of Corporate Communication PT AMNT, Kartika Octaviana dilansir dari salah satu media online belum lama ini menyatakan, upaya unggulan yang dilakukan PT AMNT dalam pengelolaan lingkungan pertambangan adalah reklamasi dan revegetasi. Upaya ini terus dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan seperti sedia kala.

“Kami menyadari bahwa pengelolaan lingkungan yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional, yang memberikan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga, reklamasi sangat penting dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya,” ujarnya.

PT AMNT, kata dia, berkomitmen dalam pemberdayaan masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti inilah yang terus dikembangkan perusahaan melalui program-program tanggung jawab sosial perusahaan Corporate Social Responsibiliti (CSR).

Melalui pemberdayaan itu juga, diharapkan terwujudnya masyarakat mandiri di wilayah sekitar tambang.

“Kami berdayakan masyarakat sekitar tambang seperti pembuatan coconet berasal dari Desa Maluk, pembuatan ijuk di Desa Jereweh dan bibit pohon reklamasi di Desa Sekongkang dan Tongo,” jelasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!