Didepan KPK, Sekda KSB Sebut PT AMNT Berhutang Rp 100 Miliar

  • Bagikan

Mataram | Koordinator Supervisi KPK baru-baru ini melakukan kunjungan lapangan ke PT. AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat. Di lapangan, KPK menerima informasi terkait persoalan pembayaran bagian pemerintah daerah atas keuntungan bersih PT. AMNT.

Informasi itu dilaporkan Sekretaris Daerah (Sekda) Amar Nurmansyah. Kepada tim KPK, ia menyebut pemegang IUPK PT.AMNT berhutang Rp 100 miliar kepada Pemkab setempat.

“Saat ini pemda KSB sangat membutuhkan pemasukan dan jika dilunasi kewajiban ini oleh PT. AMNT, Pemerintah Sumbawa Barat sebagai kabupaten penghasil akan memperoleh pendapatan lain-lain yang sah setidaknya Rp100 Miliar,” kata, Amar, yang di rilis Plt. Bidang Pencegahan KPK, Ipi Maryati Kuding, yang terima media ini, Jum’at (24/6/2022).

Didepan KPK, Sekda KSB Sebut PT AMNT Berhutang Rp 100 Miliar
(Koordinator Supervisi KPK saat berkunjung ke PT AMNT) foto : sumber KPK

KPK menyebut, saat ini Pemkab Sumbawa Barat menunggu kabar baik dari PT AMNT, agar proses pembayaran bisa segera diselesaikan, sehingga pemda punya anggaran untuk membiayai program pemerintah yang masih tertunda.

Beberapa saat selama di NTB, KPK dilaporkan tengah melakukan supervisi khusus mengenai optimalisasi penerimaan daerah dari sektor pertambangan umum. Lembaga anti rasuah itu menengarai 14 pemegang IUPK yang terdaftar di Kementerian ESDM tidak memiliki nomor pokok wajib pajak.

Sementara itu, terkait persoalan pajak, Kepala Kantor Perwakilan Dirjen Pajak Wilayah Nusa Tenggara, Samsinar mengatakan persoalan lolosnya pemegang IUP dari kewajiban pembayaran pajak karena belum diterapkannya Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP) dalam pemberian izin baru dan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan.

Samsinar juga mengatakan bahwa ketiadaan basis data pajak membuat Petugas Pajak tidak bisa memastikan apakah jumlah pajak yang dibayarkan sudah benar.

“Tukar menukar data lintas instansi baik pusat maupun daerah menjadi kunci dalam mendorong kepatuhan wajib pajak. Hal ini juga untuk memastikan bahwa kontribusi sektor tambang bagi keuangan daerah melalui Dana Bagi Hasil pajak, bisa lebih maksimal,” jelas Samsinar.

Tidak hanya pajak pusat, pelaku usaha pertambangan juga cenderung tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban pajak daerah. Di Kabupaten Lombok Timur misalnya, sebanyak 8 perusahaan yang mengambil material galian C tidak membayarkan kewajiban pajaknya.

Total tunggakan kedelapan perusahaan tersebut mencapai miliar-an Rupiah. Kedelapan perusahaan tersebut yakni PT Sinar Bali, PT Baginda Group, PT Cahaya K Nusantara, PT Eka Praya Jaya, PT Lombok Infrastruktur, PT Sanur Jaya Utama, PT Tepat Guna Reforindo, dan PT Varia Usaha Beton.

“Perusahaan ini sudah ditagih berung kali baik secara langsung maupun melalui surat, namun tidak ada respon yang memadai dari mereka. Padahal penerimaan pajak ini sangat penting untuk meningkatkan PAD Lombok Timur,” ujar Kepala Bidang Pengawasan Pajak Bapenda Lombok Timur, Jamudin.

“Sebenarnya potensi pajak dari batuan di Lombok Timur ini, sangatlah besar. Sebab material untuk kegiatan konstruksi di Pulau Lombok sebagian besarnya bersumber dari Lombok Timur. Padahal kita tahu, proyek konstruksi di pulau Lombok saat ini sangat banyak. Termasuk untuk pembangunan bendungan di Lombok Barat misalnya, materialnya bisa jadi berasal dari Lombok Timur. Namun sampai saat ini, belum ada informasi jenis dan volume pengambilan material apalagi pembayaran pajak yang disampaikan oleh kontraktor atau pemasoknya,” lanjut Jamudin.

Setali tiga uang, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga mengeluhkan minimnya kontribusi dari sektor pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan. Dalam rapat koordinasi yang difasilitasi oleh KPK Rabu, 23 Juni 2022, terungkap bahwa pihak kontraktor Bendungan Sila di Sumbawa belum melunasi kewajiban Pajak MBLB nya. Pihak PT Nindya Karya sebagai salah satu bagian dari konsorsium akhirnya menyepakati pelunasan pembayaran pajak MBLB sekitar Rp 1,3 Miliar sampai dengan Agustus tahun ini.

Demikian juga dengan PT Brantas Abhipraya (Persero) juga berjanji akan sesegera mungkin melunasi tagihan Pajak MBLB ke Pemkab Sumbawa. Menurut Kabid Bapenda Kab. Sumbawa Barat Marga Rayes, terdapat potensi pajak galian C pada PT. Brantas Abhipraya sebesar Rp. 45 Milyar yang belum dibayarkan.

Di Kabupaten Dompu, Wakil Bupati Syahrul Parsan menyampaikan mestinya ada komitmen kuat dari pelaku usaha untuk membayarkan kewajibannya kepada Pemda.

“Keberadaan PT Sumbawa Mining Timur di Kabupaten Dompu diharapkan dapat memberikan kontribusi langsung kepada pemda, termasuk dalam pembayaran pajak MBLB, hotel dan restoran,” ujar Syahrul dalam rapat terpisah antara PT Sumbawa Mining Timur dengan Pemda Dompu, yang juga dihadiri KPK dan dinas ESDM Provinsi NTB, Kamis 24 Juni 2022.

Persoalan penerimaan dari sektor pertambangan selalu menjadi konsern KPK. Hal ini sejalan dengan amanah UUD 1945 dan kewajiban KPK untuk mencegah korupsi dan kerugian keuangan negara. Bagi KPK, persoalan pajak daerah merupakan hal penting karena selama ini kemandirian fiskal di daerah termasuk di NTB yang masih dalam zona kuning. Sehingga upaya untuk mengoptimalkan penerimaan dari sektor perpajakan menjadi penting.

“Kita sama-sama membantu. Daerah membantu menciptakan iklim usaha yang kondusif dan sebaliknya perusahaan melaksanakan kewajibannya kepada daerah,” tegas Dir Korsup KPK dalam setiap pertemuan selama Korsup Pertambangan di NTB berlangsung.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!